<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>rumah ilmu</title>
	<atom:link href="http://rumahilmu.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahilmu.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 18 Apr 2009 02:01:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='rumahilmu.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>rumah ilmu</title>
		<link>http://rumahilmu.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://rumahilmu.wordpress.com/osd.xml" title="rumah ilmu" />
	<atom:link rel='hub' href='http://rumahilmu.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Apa Yang Diperbuat Orang Yang Mimpi</title>
		<link>http://rumahilmu.wordpress.com/2009/04/18/apa-yang-diperbuat-orang-yang-mimpi/</link>
		<comments>http://rumahilmu.wordpress.com/2009/04/18/apa-yang-diperbuat-orang-yang-mimpi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Apr 2009 02:01:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pakdhe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[hisnul muslim]]></category>
		<category><![CDATA[matan]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[mp3]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahilmu.wordpress.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Doa Tidur Malam dan Mimpi Bagi seseorang yang bermimpi buruk hendaklah berbuat sebagai berikut: Meludah ke kirinya tiga kali. [1] Minta perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan dan kejelekan mimpinya, tiga kali. [2] Tidak membicarakan mimpinya kepada orang lain. [3] Membalikkan tubuhnya (mengubah posisi tidur). [4] Berdiri dan melakukan shalat, bila mau. [5] Download matan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahilmu.wordpress.com&amp;blog=614759&amp;post=32&amp;subd=rumahilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Doa Tidur Malam dan Mimpi</p>
<p>Bagi seseorang yang bermimpi buruk hendaklah berbuat sebagai berikut:</p>
<ol>
<li><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:10pt;">Meludah ke  kirinya tiga kali. [1]</span></span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;"></span><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:10pt;">Minta  perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan dan kejelekan mimpinya, tiga kali.  [2]</span></span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;"></span><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:10pt;">Tidak  membicarakan mimpinya kepada orang lain. [3]</span></span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;"></span><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:10pt;">Membalikkan  tubuhnya (mengubah posisi tidur). [4]</span></span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;"></span><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:10pt;">Berdiri  dan melakukan shalat, bila mau. [5]</span></span></li>
</ol>
<p><a title="Hisnul Muslim - 31" href="http://www.ziddu.com/download/4343495/031-Doa-Ketika-Mimpi-Buruk.mp3.html">Download matan (mp3)</a></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:10pt;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></span><br />
<span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:10pt;">[1]  HR. Muslim 4/1772.<br />
[2] HR. Muslim 4/1772-1773.<br />
[3] HR. Muslim  4/1772.<br />
[4] HR. Muslim 4/1773.<br />
[5] HR. Muslim  4/1773.</span></span></p>
<p align="justify">Sumber: Hisnul Muslim, Edisi Indonesia: Kumpulan Doa Dalam Al Quran &amp; Hadits, Said bin Ali bin Wahf Al Qahthowi, Penerbit Surabaya, September 2000</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahilmu.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahilmu.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahilmu.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahilmu.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumahilmu.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumahilmu.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumahilmu.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumahilmu.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahilmu.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahilmu.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahilmu.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahilmu.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahilmu.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahilmu.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahilmu.wordpress.com&amp;blog=614759&amp;post=32&amp;subd=rumahilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahilmu.wordpress.com/2009/04/18/apa-yang-diperbuat-orang-yang-mimpi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af22681d128b16f91f69e1858c590a5f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pakdhe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebab-sebab yang dapat memperkuat iman</title>
		<link>http://rumahilmu.wordpress.com/2008/02/04/sebab-sebab-yang-dapat-memperkuat-iman/</link>
		<comments>http://rumahilmu.wordpress.com/2008/02/04/sebab-sebab-yang-dapat-memperkuat-iman/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Feb 2008 10:07:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pakdhe</dc:creator>
				<category><![CDATA[aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahilmu.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bagaimana seseorang bisa memperkuat imannya dimana kondisinya tidak dapat terpengaruh oleh mankna ayat-ayat yang dibacanya kecuali sedikit sekali? Jawaban: Yang jelas orang ini ketika mengatakan ucapan ini tampak bahwa dia sebenarnya seorang yang beriman kepada hari akhir dan membenarkannya akan tetapi pada dirinya ada sedikit kekerausan hati. Penyakit keras hati pada masa sekarang ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahilmu.wordpress.com&amp;blog=614759&amp;post=31&amp;subd=rumahilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertanyaan:<br />
Bagaimana seseorang bisa memperkuat imannya dimana kondisinya tidak dapat terpengaruh oleh mankna ayat-ayat yang dibacanya kecuali sedikit sekali?</p>
<p>Jawaban:<br />
Yang jelas orang ini ketika mengatakan ucapan ini tampak bahwa dia sebenarnya seorang yang beriman kepada hari akhir dan membenarkannya akan tetapi pada dirinya ada sedikit kekerausan hati. Penyakit keras hati pada masa sekarang ini banyak sekali dan sebab utamanya adalah berpaling dari beribadah dan ketundukan secara total kepada Allah. Andaikata seseorang beribadah keapda Allah dengan sebenar-benarnya dan tunduk patuh kepadaNya dengan sebenar-benarnya, niscaya dia akan mendapatkan hatinya menjadi lunak dan khusyu&#8217;. Dan andaikata seseorang di antara kita menyongsong al-Quran dan mentadabburinya, niscaya dia juga akan mendapatkan hatinya menjadi lunak dan khusyu&#8217; sebab Allah berfirman:</p>
<p>&#8220;Kalau seandainya kami menurunkan al-Quran ini kepada sebuah gunung pasti kamu akan melihatnya tunduk berpecah belah disebabkan takut kepada Allah&#8221; [Al Hasyr:21]</p>
<p>Di antara penyebab timbulnya penyakit keras hati adalah fenomena hiasan dunia di era kontemporer ini, terbuainya manusia olehnya serta beragamnya problematika. Oleh karena itu, anda bisa menjumpai anak kecil yang belum begitu mengenal godaan duniawi dan godaan duniawi pun belum menyentuhnya lebih banyak khusyu&#8217; dan tangisnya (karena hatinya tersentuh &#8211; penj) dibandingkan dengan orang dewasa. Ini adalah pemandangan yang kita saksikan dan kalian saksikan juga sekarang ini di Masjid al-Haram di saat shalat Qiyamullail. Anda akan menjumpai anak-anak muda berusia delapan belasan tahun dan semisalnya bisa lebih banyak tangisnya karena tersentuh saat disebutkan ayat-ayat yang berisi ancaman atau sugesti daripada orang yang lebih tua dari mereka karena hati mereka lebih lunak dan belum banyak terbuai oleh godaan duniawi dan belum begitu memikirkan problematika-problematika jangka panjang ataupun pendek.</p>
<p>Oleh karena itu, kita menjumpai mereka lebih banyak diliputi rasa khusyu&#8217; dan lebih dekat kepada kelunakan hati daripada mereka yang sudah terbelalak oleh godaan duniawi dan terbuai olehnya sehingga menjadikan hati mereka tercerai-berai ke sana dan kemari.</p>
<p>Nasehat saya kepada saudara penanya ini agar mengkonsentrasikan hati dan pemikirannya hanya pada hal yang terkait dengan dien ini semata, antusias dalam membaca al Quran dengan tadabbur dan perlahan serta anusias pula untuk merujuk kepada hadits-hadits yang mengandung targhib (bersifat rangsangan dan sugesti) dan tarhib (bersifat menakutkan dan ultimatum) karena hal ini dapat melunakkan hati.</p>
<p>Kumpulan Kajian dan Fatwa al Haram al Makki, Jus III hal 380 dari Syaikh Ibnu Utsaimin</p>
<p>[Dinukil dari Al fatawa asy-sya'iyyah fi al masa'il al ashriyyah min fatawa ulama al balad al haram, edisi Indonesia: Fatwa-fatwa Terkini I Penerbit: Darul Haq]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rumahilmu.wordpress.com/31/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rumahilmu.wordpress.com/31/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahilmu.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahilmu.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahilmu.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahilmu.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumahilmu.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumahilmu.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumahilmu.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumahilmu.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahilmu.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahilmu.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahilmu.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahilmu.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahilmu.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahilmu.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahilmu.wordpress.com&amp;blog=614759&amp;post=31&amp;subd=rumahilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahilmu.wordpress.com/2008/02/04/sebab-sebab-yang-dapat-memperkuat-iman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af22681d128b16f91f69e1858c590a5f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pakdhe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perkara yang merusak puasa</title>
		<link>http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/30/perkara-yang-merusak-puasa/</link>
		<comments>http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/30/perkara-yang-merusak-puasa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Sep 2007 09:15:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pakdhe</dc:creator>
				<category><![CDATA[puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/30/perkara-yang-merusak-puasa/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syaikh Salim bin &#8216;Ied Al-Hilaaly Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid Banyak perbuatan yang harus dijauhi oleh orang yang puasa, karena kalau perbuatan ini dilakukan pada siang hari bulan Ramadhan akan merusak puasanya dan akan berlipat dosanya. Perkara-perkara tersebut adalah. [1]. Makan dan Minum Dengan Sengaja Allah Azza Sya&#8217;nuhu berfirman. &#8220;Artinya: Dan makan minumlah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahilmu.wordpress.com&amp;blog=614759&amp;post=30&amp;subd=rumahilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh<br />
Syaikh Salim bin &#8216;Ied Al-Hilaaly<br />
Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid</p>
<p>Banyak perbuatan yang harus dijauhi oleh orang yang puasa, karena kalau perbuatan ini dilakukan pada siang hari bulan Ramadhan akan merusak puasanya dan akan berlipat dosanya. Perkara-perkara tersebut adalah.</p>
<p>[1]. Makan dan Minum Dengan Sengaja</p>
<p>Allah <em>Azza Sya&#8217;nuhu</em> berfirman.</p>
<p>&#8220;Artinya: Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam&#8221; [Al-Baqarah: 187]<br />
<span id="more-30"></span><br />
Difahami bahwa puasa itu (mencegah) dari makan dan minum, jika makan dan minum berarti telah berbuka, kemudian dikhususkan kalau sengaja, karena jika orang yang puasa melakukannya karena lupa, salah atau dipaksa, maka tidak membatalkan puasanya. Masalah ini berdasarkan dalil-dalil.</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya: Jika lupa hingga makan dan minum, hendaklah menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah yang memberinya makan dan minum&#8221; [Hadits Riwayat  Bukhari 4/135 dan Muslim 1155]</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya: Allah meletakkan (tidak menghukum) umatku karena salah atau lupa dan karena dipaksa&#8221; [1]</p>
<p>[2]. Muntah Dengan Sengaja</p>
<p>Karena barangsiapa yang muntah karena terpaksa tidak membatalkan puasanya. Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya: Barangsiapa yang terpaksa muntah, maka tidak wajib baginya untuk mengqadha&#8217; puasanya, dan barangsiapa muntah dengan sengaja, maka wajib baginya mengqadha&#8217; puasanya&#8221; [2]</p>
<p>[3]. Haidh dan Nifas</p>
<p>Jika seorang wanita haidh atau nifas, pada satu bagian siang, baik di awal ataupun di akhirnya, maka mereka harus berbuka dan mengqadha&#8217; kalau puasa tidak mencukupinya. Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya: Bukankah jika haid dia tidak shalat dan puasa ? Kami katakan: &#8220;Ya&#8221;, Beliau berkata: &#8216;Itulah (bukti) kurang agamanya&#8221; [Hadits Riwayat Muslim 79, dan 80 dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah]</p>
<p>Dalam riwayat lain.</p>
<p>&#8220;Artinya: Berdiam beberapa malam dan berbuka di bulan Ramadhan, ini adalah (bukti) kurang agamanya&#8221;</p>
<p>Perintah mengqadha&#8217; puasa terdapat dalam riwayat Mu&#8217;adzah, dia berkata.</p>
<p>&#8220;Artinya: Aku pernah bertanya kepada Aisyah: &#8216; Mengapa orang haid mengqadha&#8217; puasa tetapi tidak mengqadha shalat?&#8217; Aisyah berkata: &#8216;Apakah engkau wanita Haruri[3], Aku menjawab: &#8216;Aku bukan Haruri, tapi hanya (sekedar) bertanya&#8217;. Aisyah berkata: &#8216;Kamipun haidh ketika puasa, tetapi kami hanya diperintahkan untuk mengqadha puasa, tidak diperintahkan untuk mengqadha&#8217; shalat&#8221; [Hadits Riwayat Bukhari 4/429 dan Muslim 335]</p>
<p>[4]. Suntikan Yang Mengandung Makanan</p>
<p>Yaitu menyalurkan zat makanan ke perut dengan maksud memberi makan bagi orang sakit. Suntikan seperti ini membatalkan puasa, karena memasukkan makanan kepada orang yang puasa [4] Adapun jika suntikan tersebut tidak sampai kepada perut tetapi hanya ke darah, maka itupun juga membatalkan puasa, karena cairan tersebut kedudukannya menggantikan kedudukan makanan dan minuman. Kebanyakan orang yang pingsan dalam jangka waktu yang lama diberikan makanan dengan cara seperti ini, seperti jauluz dan salayin, demikian pula yang dipakai oleh sebagian orang yang sakit asma, inipun membatalkan puasa.</p>
<p>[5]. Jima&#8217;</p>
<p>Imam Syaukani berkata (Dararul Mudhiyah 2/22): &#8220;Jima&#8217; dengan sengaja, tidak ada ikhtilaf (perbedaan pendapat) padanya bahwa hal tersebut  membatalkan puasa, adapaun jika jima&#8217; tersebut terjadi karena lupa, maka sebagian ahli ilmu menganggapnya sama dengan orang yang makan dan minum dengan tidak sengaja&#8221;</p>
<p>Ibnul Qayyim berkata (Zaadul Ma&#8217;ad 2/66): &#8220;Al-Qur&#8217;an menunjukkan bahwa jima&#8217; membatalkan puasa seperti halnya makan dan minum, tidak ada perbedaan pendapat akan hal ini&#8221;.</p>
<p>Dalilnya adalah firman Allah.</p>
<p>&#8220;Artinya: Sekarang pergaulilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian&#8221; [Al-Baqarah: 187]</p>
<p>Diizinkannya bergaul (dengan istri) di malam hari, (maka bisa) difahami dari sini bahwa puasa itu dari makan, minum dan jima&#8217;. Barangsiapa yang merusak puasanya dengan jima&#8217; harus mengqadha&#8217; dan membayar kafarat, dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah <em>Radhiyallahu &#8216;anhu</em> (dia berkata):</p>
<p>&#8220;Pernah datang seseorang kepada Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kemudian ia berkata, &#8216;Ya Rasulullah binasalah aku!&#8217; Rasulullah bertanya, &#8216;Apa yang membuatmu binasa?&#8217; Orang itu menjawab, &#8216;Aku menjimai istriku di bulan Ramadhan&#8217;. Rasulullah bersabda, &#8216;Apakah kamu mampu memerdekakan seorang budak?&#8217; Orang itu menjawb, &#8216;Tidak&#8217;. Rasulullah bersabda, &#8216;Apakah engkau mampu memberi makan enam puluh orang miskin?&#8217; Orang itu menjawab, &#8216;Tidak&#8217; Rasulullah bersabda, &#8216;Duduklah&#8217;. Diapun duduk. Kemudian ada yang mengirim satu wadah korma kepada Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Rasulullah bersabda, &#8216;Bersedekahlah&#8217;, Orang itu berkata, &#8216;Tidak ada di antara dua kampung ini keluarga yang lebih miskin dari kami&#8217;. Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun tertawa hingga terlihat gigi serinya, lalu beliau bersabda, &#8216;Ambillah, berilah makan keluargamu&#8221; [5]</p>
<p>[Disalin dari Kitab <em>Sifat Shaum Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan</em>, edisi Indonesia Sifat Puasa Nabi <em>Shallallahu 'alaihi wa sallam</em> oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, terbitan Pustaka Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata]<br />
_________<br />
Foote Note.<br />
[1]. Hadits Riwayat Thahawi dalam Syrahu Ma&#8217;anil Atsar 2/56, Al-Hakim 2/198, Ibnu Hazm dalam Al-Ihkam 5/149, Ad-Daruquthni 4/171 dari dua jalan yaitu dari Al-Auza&#8217;i dari Atha&#8217; bin Abi Rabah dari Ubaid bin Umar, dari Ibnu Abbas, sanadnya Shahih<br />
[2]. Hadits Riwayat Abu Dawud 2/310, Tirmidzi 3/79, Ibnu Majah 1/536, Ahmad 2/498 dari jalan Hisyam bin Hasan, dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah, sanadnya Shahih sebagaimana yang diucapkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Haqiqtus Shyam halaman 14.<br />
[3]. Al-Haruri nisbat kepada Harura&#8217; (yaitu) negeri yang jaraknya 2 mil dari Kufah, orang yang beraqidah Khawarij disebut Haruri karena kelompok pertama dari mereka yang memberontak kepada Ali di negeri tersebut, hingga dinisbatkan di sana. Demikian dikatakan oleh Al-Hafidz dalam Fathul Bari 4/424, dan lihat A Lubab 1/359 karya Ibnu Atsir. Mereka orang-orang Haruriyah mewajbkan wanita-wanita yang telah suci daari Haid untuk mengqadha shalat yang terluput semasa haidnya. Aisyah khawatir Mu&#8217;adzah menerima pertanyaan dari Khawrij, yang mempunyai kebiasaan menentang sunnah dengan pikiran mereka, orang-orang seperti mereka pada zaman ini banyak, Lihat pasal At-Tautsiq &#8216;anillah wa ra rasuluhi dari tuliasan Dirasat Manhajiyat fi Aqidah As-Salafiyah karya Salim Al-Hilaly<br />
[4]. Lihat Haqiqatus  Shiyam halaman 15, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah<br />
[5]. Hadits Shahih dengan berbagai lafadz yang berbeda dari Bukhari 11/516, Muslim 1111, Tirmidzi 724, Baghwai 6/288, Abu Dawud 2390, Ad-Darimi 2/11, Ibnu Majah 1617, Ibnu Abi Syaibah 2/183-184, Ibnu Khuzaimah 3/216, Ibnul Jarud 139, Syafi&#8217;i 199, Malik 1/297, Abdur Razak 4/196, sebagian memursalkan,  sebagian riwayat mereka ada tambahan:&#8221;Qadhalah satu hari sebagai gantinya&#8221;. Dishahihkan oleh Al-Hafidz dalam Fathul Bari 11/516,  memang demikian.</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.almanhaj.or.id/content/1124/slash/0">http://www.almanhaj.or.id/content/1124/slash/0</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rumahilmu.wordpress.com/30/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rumahilmu.wordpress.com/30/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahilmu.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahilmu.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahilmu.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahilmu.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumahilmu.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumahilmu.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumahilmu.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumahilmu.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahilmu.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahilmu.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahilmu.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahilmu.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahilmu.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahilmu.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahilmu.wordpress.com&amp;blog=614759&amp;post=30&amp;subd=rumahilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/30/perkara-yang-merusak-puasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af22681d128b16f91f69e1858c590a5f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pakdhe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Waktu Puasa 2</title>
		<link>http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/30/waktu-puasa-2/</link>
		<comments>http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/30/waktu-puasa-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Sep 2007 08:58:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pakdhe</dc:creator>
				<category><![CDATA[puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/30/waktu-puasa-2/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syaikh Salim bin &#8216;Ied Al-Hilaaly Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid Dari Samurah Radhiyallahu &#8216;anhu, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda. &#8220;Artinya: Janganlah kalian tertipu oleh adzannya Bilal dan jangan pula tertipu oleh warna putih yang memancar ke atas sampai melintang&#8221; [Hadits Riwayat Muslim 1094] Dari Thalq bin Ali, (bahwasanya) Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahilmu.wordpress.com&amp;blog=614759&amp;post=29&amp;subd=rumahilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh<br />
Syaikh Salim bin &#8216;Ied Al-Hilaaly<br />
Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid</p>
<p>Dari Samurah <em>Radhiyallahu &#8216;anhu</em>, Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya: Janganlah kalian tertipu oleh adzannya Bilal dan jangan pula tertipu oleh warna putih yang memancar ke atas sampai melintang&#8221; [Hadits Riwayat Muslim 1094]</p>
<p>Dari Thalq bin Ali, (bahwasanya) Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya: Makan dan minumlah, jangan kalian tertipu oleh fajar yang memancar ke atas. Makan dan minumlah sampai warna merah membentang&#8221; [6]<br />
<span id="more-29"></span><br />
Ketahuilah -mudah-mudahan engkau diberi taufiq untuk mentaati Rabbmu- bahwasanya sifat-sifat fajar shadiq adalah yang bercocokan dengan ayat yang mulia.</p>
<p>&#8220;Artinya: Hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam yaitu fajar&#8221;</p>
<p>Karena cahaya fajar jika membentang di ufuk atas lembah dan gunung-ghunung akan tampak seperti benang putih, dan akan tampak di atasnya benang hitam yakni sisa-sisa kegelapan malam yang pergi menghilang.</p>
<p>Jika telah jelas hal tersebut padamu berhentilah dari makan, minum dan berjima&#8217;. Kalau di tanganmu ada gelas berisi air atau minuman, minumlah dengan tenang, karena itu merupakan rukhshah (keringanan) yang besar dari Dzat Yang Paling Pengasih kepada hamba-hamba-Nya yang puasa. Minumlah walaupun engkau telah mendengar adzan.</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya: Jika salah seorang dari kalian mendengar adzan padahal gelas ada di tangannya, janganlah ia letakkan hingga memenuhi hajatnya&#8221; [7]</p>
<p>Yang dimaksud adzan dalam hadits di atas adalah adzan subuh yang kedua karena telah terbitnya Fajar Shadiq dengan dalil tambahan riwayat, yang diriwayatkan oleh Ahmad 2/510, Ibnu Jarir At-Thabari 2/102 dan selain keduanya setelah hadits di atas.</p>
<p>&#8220;Artinya: Dahulu seorang muadzin melakukan adzan ketika terbit fajar&#8221; [8]</p>
<p>Yang mendukung makna seperti ini adalah riwayat Abu Umamah <em>Radhiyallahu &#8216;anhu</em>.</p>
<p>&#8220;Artinya: Telah dikumandangkan iqamah shalat, ketika itu di tangan Umar masih ada gelas, dia berkata: &#8216;Boleh aku meminumnya ya Rasulullah ?&#8217; Rasulullah bersabda: &#8220;Ya&#8217; minumlah&#8221; [Hadits Riwayat Ibnu Jarir 2/102 dari dua jalan dari Abu Umamah]</p>
<p>Jelaslah bahwa menghentikan makan sebelum terbit Fajar Shadiq dengan dalih hati-hati adalah perbuatan bid&#8217;ah yang diada-adakan.</p>
<p>Al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah berkata dalam Al-Fath 4/199  &#8220;Termasuk perbuatan bid&#8217;ah yang mungkar adalah yang diada-adakan pada zaman ini, yaitu mengumandangkan adzan kedua sepertiga jam sebelum waktunya di bulan Ramadhan, serta memadamkan lampu-lampu yang dijadikan sebagai tanda telah haramnya makan dan minum bagi orang yang mau puasa, mereka mengaku perbuatan ini dalam rangka ikhtiyath (hati-hati) dalam ibadah, tidak ada yang mengetahuinya kecuali beberapa gelintir manusia saja, hal ini telah menyeret mereka hingga melakukan adzan ketika telah terbenam matahari beberapa derajat untuk meyakinkan telah masuknya waktu -itu sangkaan mereka- mereka mengakhirkan berbuka dan menyegerakan sahur hingga menyelisihi sunnah. Oleh karena itu sedikit pada mereka kebaikan dan banyak tersebar kejahatan pada mereka. <em>Allahul musta&#8217;an</em>&#8220;.</p>
<p>Kami katakan: Bid&#8217;ah ini, yakni menghentikan makan (imsak) sebelum fajar dan mengakhirkan waktu berbuka, tetap ada dan terus berlangsung di zaman ini. Kepada Allah-lah kita mengadu.</p>
<p>[3]. Menyempurnakan Puasa Hingga Malam</p>
<p>Jika telah datang malam dari arah timur, menghilangkan siang dari arah barat dan matahari telah terbenam bebukalah orang yang puasa.</p>
<p>Dari Umar <em>Radhiyallahu &#8216;anhu</em>, ia berkata Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya: Jika malam datang dari sini, siang menghilang dari sini dan terbenam matahari, telah berbukalah orang yang puasa&#8221; [9]</p>
<p>Hal ini terwujud setelah terbenamnya matahari, walaupun sinarnya masih ada. Termasuk petunjuk Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, jika beliau puasa menyuruh seseorang untuk naik ke satu ketinggian, jika orang itu berkata: &#8220;Matahari telah terbenam&#8221;, beliaupun berbuka [10]</p>
<p>Sebagian orang menyangka malam itu tidak terwujud langsung setelah terbenamnya matahari, tapi masuknya malam setelah kegelapan menyebar di timur dan di barat. Sangkaan seperti ini pernah terjadi pada sahabat Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, kemudian mereka diberi pemahaman bahwa cukup dengan adanya awal gelap dari timur setelah hilangnya bundaran matahari.</p>
<p>Dari Abdullah bin Abi Aufa <em>Radhiyallahu &#8216;anhu</em>: &#8220;Kami pernah bersama Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dalam suatu safar (perjalanan), ketika itu kami sedang berpuasa (di bulan Ramadhan). Ketika terbenam matahari, Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda kepada sebagian kaum: &#8220;Wahai Fulan (dalam riwayat Abu Daud: Wahai Bilal) berdirilah, ambilkan kami air&#8221;. Orang itu berkata, &#8220;Wahai Rasulullah, kalau engkau tunggu hingga sore&#8221;, dalam riwayat lain: matahari). Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8220;Turun, ambilkan air&#8221;. Bilal pun turun, kemudian Nabi minum. Beliau bersabda, &#8220;Kalau kalian melihatnya niscaya akan kalian lihat dari atas onta, yakni matahari&#8221;. Kemudian beliau melemparkan (dalam riwayat lain: berisyarat dengan tangannya) (Dalam riwayat Bukhari- Muslim: berisyarat dengan telunjuknya ke arah kiblat) kemudian berkata: &#8220;Jika kalian melihat malam telah datang dari sini maka telah berbuka orang yang puasa. [11]</p>
<p>Telah ada riwayat yang menegaskan bahwa para sahabat Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengikuti perkataannya, dan perbuatan mereka sesuai dengan perkataan Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Abu Said Al-Khudri berbuka ketika tenggelam (hilangnya) bundaran matahari. [12]</p>
<p>Peringatan:<br />
Hukum-hukum puasa yang diterangkan tadi berkaitan dengan pandangan mata manusia, tidak boleh bertakalluf atau berlebihan dengan mengintai hilal dan mengawasi dengan alat-alat perbintangan yang baru atau berpegangan dengan penanggalan ahli nujum yang menyelewengkan kaum muslimin dari sunnah Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> hingga menjadi sebab sedikitnya kebaikan pada mereka [13] <em>Wallahu a&#8217;lam</em>.</p>
<p>Peringatan Kedua:<br />
Di sebagian negeri Islam para muadzin menggunakan jadwal-jadwal waktu shalat yang telah berlangsung lebih dari 50 tahun!! Hingga mereka mengakhirkan berbuka puasa dan menyegerakan sahur, akhirnya mereka menentang petunjuk Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</em><br />
Di negeri-negeri seperti ini ada sekelompok orang yang bersemangat  dalam mengamalkan sunnah dengan berbuka berpedoman pada matahari dan sahur berpedoman  fajar. Jika terbenam matahari mereka  berbuka, jika terbit fajar shadiq -sebagaimana telah dijelaskan- mereka menghentikan makan dan minum. Inilah perbuatan syar&#8217;i yang shahih, tidak diragukan lagi. Barangsiapa yang menyangka mereka menyelisihi sunnah, ia telah berprasangka dengan sangkaan yang salah. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Jelaslah, ibadah puasa berkaitan dengan matahari dan fajar, jika ada orang yang menyelisihi kaidah ini, mereka telah salah, bukan orang yang berpegang dengan ushul dan mengamalkannya. Adzan adalah pemberitahuan masuknya waktu, (dan) tetap mengamalkan ushul yang diajarkan Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah wajib. Camkanlah ini dan pahamilah.!</p>
<p>[Disalin dari Kitab <em>Sifat Shaum Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan</em>, edisi Indonesia Sifat Puasa Nabi <em>Shallallahu 'alaihi wa sallam</em> oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, terbitan Pustaka Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata]<br />
_________<br />
Foote Note.<br />
[6] Hadits Riwayat Tirmidzi 3/76, Abu Daud 2/304, Ahmad 4/66, Ibnu Khuzaimah 3/211 dari jalan Abdullah bin Nu&#8217;man dari Qais bin Thalaq dari bapaknya, sanadnya Shahih. Abdullah bin Nu&#8217;man dianggap tsiqah oleh Ibnu Ma&#8217;in, Ibnu Hibban dan Al-Ajali. Ibnu Khuzaimah tidak tahu keadilannya. Ibnu Hajar berkata Maqbul!!<br />
[7] Hadits Riwayat Abu Daud 235, Ibnu Jarir 3115. Al-Hakim 1/426, Al-Baihaqi 2/218, Ahmad 3/423 dari jalan Hamad dari Muhammad bin Amir dari Abi Salamah dari Abu Hurairah, sanadnya HASAN. Ada jalan lain diriwayatkan oleh Ahmad 2/510, Hakim 1/203,205 dari jalan Hammad dari Amr bin Abi Amaran dari Abu Hurairah, sanadnya SHAHIH<br />
[8] Riwayat tambahan ini membatalkan ta&#8217;liq Syaikh Habiburrahman Al-Adhami Al-Hanafi terhadap Mushannaf Abdur Razaq 4/173 ketika berkata: &#8220;Ini dimungkinkan bahwa Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bahwasanya muadzin adzan sebelum terbit fajar!!&#8221; <em>Walhamdulillahi wahdah</em>.<br />
[9] Hadits Riwayat Bukhari 4/171, Muslim 1100. Perkataannya: &#8220;Telah berbuka orang yang puasa&#8221; yakni dari sisi hukum bukan kenyataan karena telah masuk puasa.<br />
[10] Hadits Riwayat Al-Hakim 1/434, Ibnu Khuzaimah 2061, di SHAHIH kan oleh Al-Hakim menurut syarat Bukhari-Muslim. Perkataan Aufa: Yakni naik atau melihat.<br />
[11] Hadits Riwayat Bukhari 4/199, Muslim 1101, Ahmad 4/381, Abu Daud 2352. Tambahan pertama dalam riwayat Muslim 1101. Tambahan kedua dalam riwayat Abdur Razaq 4/226. Perkataan beliau: &#8220;Ambilkan segelas air&#8221; yakni: siapkan untuk kami minuman dan makanan. Ashal Jadh: (mengaduk) menggerakkan tepung atau susu dengan air dengan menggunakan tongkat (kayu)<br />
[12] Diriwayatkan oleh Bukhari dengan mu&#8217;allaq 4/196 dan dimaushulkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf 3/12 dan Siad bin Manshur sebagaiman dalam Al-Fath 4/196, Umdatul Qari 9/130, lihat Taghliqut Ta&#8217;liq 3/195<br />
[13] Barangsiapa yang ingin tambahan penjelasan dan rincian yang baik akan dia temukan dalam kitab: Majmu&#8217; Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 25/126-202. Al-Majmu&#8217; Syarhul Muhadzab 6/279 karya Imam Nawawi. Talkhisul Kabir 2/187-188 karya Ibnu Hajar<br />
Sumber : <a href="http://www.almanhaj.or.id/content/1098/slash/0">http://www.almanhaj.or.id/content/1098/slash/0</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rumahilmu.wordpress.com/29/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rumahilmu.wordpress.com/29/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahilmu.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahilmu.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahilmu.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahilmu.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumahilmu.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumahilmu.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumahilmu.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumahilmu.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahilmu.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahilmu.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahilmu.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahilmu.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahilmu.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahilmu.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahilmu.wordpress.com&amp;blog=614759&amp;post=29&amp;subd=rumahilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/30/waktu-puasa-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af22681d128b16f91f69e1858c590a5f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pakdhe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Waktu Puasa 1</title>
		<link>http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/24/waktu-puasa-1/</link>
		<comments>http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/24/waktu-puasa-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Sep 2007 09:00:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pakdhe</dc:creator>
				<category><![CDATA[puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/24/waktu-puasa-1/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syaikh Salim bin &#8216;Ied Al-Hilaaly Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid Pada awalnya, para sahabat Nabiyul Ummi Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam jika berpuasa dan hadir waktu berbuka mereka makan serta menjima&#8217;i isterinya selama belum tidur. Namun jika seseorang dari mereka tidur sebelum menyantap makan malamnya (berbuka), dia tidak boleh melakukan sedikitpun perkara-perkara di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahilmu.wordpress.com&amp;blog=614759&amp;post=28&amp;subd=rumahilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh<br />
Syaikh Salim bin &#8216;Ied Al-Hilaaly<br />
Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid</p>
<p>Pada awalnya, para sahabat Nabiyul Ummi Muhammad <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> jika berpuasa dan hadir waktu berbuka mereka makan serta menjima&#8217;i isterinya selama belum tidur. Namun jika seseorang dari mereka tidur sebelum menyantap makan malamnya (berbuka), dia tidak boleh melakukan sedikitpun perkara-perkara di atas. Kemudian Allah dengan keluasan rahmat-Nya memberikan rukhshah (keringanan) hingga orang yang tertidur disamakan hukumnya dengan orang yang tidak tidur. Hal ini diterangkan dengan rinci dalam hadits berikut.<br />
<span id="more-28"></span><br />
&#8220;Dahulu sahabat Nabi <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa  sallam</em> jika salah seorang diantara mereka puasa dan tiba waktu berbuka, tetapi tertidur sebelum berbuka, tidak diperbolehkan makan malam dan siangnya hingga sore hari lagi. Sungguh Qais bin Shirmah Al-Anshari pernah berpuasa, ketika tiba waktu berbuka beliau mendatangi isterinya kemudian berkata: &#8220;Apakah engkau punya makanan?&#8221; Isterinya menjawab: &#8220;Tidak, namun aku akan pergi mencarikan untukmu&#8221; Dia bekerja pada hari itu hingga terkantuk-kantuk dan tertidur, ketika isterinya  kembali dan melihatnya isterinyapun berkata &#8221; Khaibah&#8221;[1] untukmu&#8221;  Ketika pertengahan hari diapun terbangun, kemudian menceritakan perkara tersebut kepada Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> hingga turunlah ayat ini.</p>
<p>&#8220;Artinya: Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa bercampur (berjima&#8217;) dengan isteri-isterimu&#8221; [Al-Baqarah: 187]</p>
<p>Dan turun pula firman Allah.</p>
<p>&#8220;Artinya: Dan makan minumlah sehingga terang kepadamu benang putih dari benang hitam yaitu fajar&#8221; [Al-Baqarah: 187] [2]</p>
<p>Inilah rahmat Rabbani yang dicurahkan oleh Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya yang berkata: &#8220;Kami mendengar dan kami taat wahai Rabb kami, ampunilah dosa kami dan kepada-Mu lah kami kembali&#8221; (yakni) dengan memberikan batasan waktu puasa: dimulainya puasa dan waktu berakhirnya. (Puasa) dimulai dari terbitnya fajar hingga hilangnya siang dengan datangnya malam, dengan kata lain hilangnya bundaran matahari di ufuk.</p>
<p>[1]. Benang Putih Dan Benang Hitam.</p>
<p>Ketika turun ayat tersebut sebagian sahabat Nabi <em>Shalallalahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sengaja mengambil iqal (tali) hitam dan putih[3] kemudian mereka letakkan di bawah bantal-bantal mereka, atau mereka ikatkan di kaki mereka. Dan mereka terus makan dan minum hingga jelas dalam melihat kedua iqal tersebut (yakni dapat membedakan antara yang putih dari yang hitam-pent).</p>
<p>Dari Adi bin Hatim <em>Radhiyallahu&#8217;anhu</em> berkata: Ketika turun ayat.<br />
&#8220;Artinya: Sehingga terang kepadamu benang putih dari benang hitam yaitu fajar&#8221; [Al-Baqarah: 187]</p>
<p>Aku mengambil iqal hitam digabungkan dengan iqal putih, aku letakkan di bawah bantalku, kalau malam aku terus melihatnya hingga jelas bagiku, pagi harinya aku pergi menemui Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan kuceritakan padanya perbuatanku tersebut. Beliaupun bersabda.</p>
<p>&#8220;Maksud ayat tersebut adalah hitamnya malam dan putihnya siang&#8221; [4]</p>
<p>Dari Sahl bin Sa&#8217;ad <em>Radhiyallahu &#8216;anhu</em>, ia berkata: Ketika turun ayat.</p>
<p>&#8220;Makan dan minumlah hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam&#8221;</p>
<p>Ada seorang pria jika ingin puasa, ia mengikatkan benang hitam dan putih di kakinya, dia terus makan dan minum hingga jelas dalam melihat kedua benang tersebut. Kemudian Allah menurunkan ayat: &#8220;(Karena) terbitnya fajar&#8221; , mereka akhirnya tahu yang dimaksud adalah hitam (gelapnya) malam dan terang (putihnya) siang. [Hadits Riwayat Bukhari 4/114 dan Muslim 1091]</p>
<p>Setelah penjelasan Qur&#8217;ani, sungguh telah diterangkan oleh Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kepada sahabatnya batasan (untuk membedakan) serta sifat-sifat tertentu, hingga tidak ada lagi ruang untuk ragu atau tidak mengetahuinya.</p>
<p>Bagi Allah-lah mutiara penyair.</p>
<p>Tidak benar sedikitpun dalam akal jikalau siang butuh bukti.</p>
<p>[2].  Fajar Ada Dua</p>
<p>Diantara hukum yang dijelaskan oleh Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dengan penjelasan yang rinci, bahwasanya fajar itu ada dua.</p>
<p>[a]. Fajar Kadzib: Tidak dibolehkan ketika itu shalat shubuh dan belum diharamkan bagi yang berpuasa untuk makan dan minum.</p>
<p>[b]. Fajar Shadiq: Yang mengharamkan makan bagi yang puasa, dan sudah boleh melaksanakan shalat shubuh.</p>
<p>Dari Ibnu Abbas <em>Radhiyallahu &#8216;anhuma</em>, Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya: Fajar itu ada dua: Yang pertama tidak mengharamkan makan (bagi yang puasa), tidak halal shalat ketika itu, yang kedua mengharamkan makan dan telah dibolehkan shalat ketika terbit fajar tersebut&#8221; [5]</p>
<p>Dan ketahuilah -wahai saudara muslim- bahwa:</p>
<p>[a]. Fajar Kadzib adalah warna putih yang memancar panjang yang menjulang seperti ekor binatang gembalaan.</p>
<p>[b]. Fajar Shadiq adalah warna yang memerah yang bersinar dan tampak di atas puncak bukit dan gunung-gunung, dan tersebar di jalanan dan di jalan raya serta di atap-atap rumah. Fajar inilah yang berkaitan dengan hukum-hukum puasa dan shalat.</p>
<p>[Disalin dari Kitab <em>Sifat Shaum Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan</em>, edisi Indonesia Sifat Puasa Nabi <em>Shallallahu 'alaihi wa sallam</em> oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, terbitan Pustaka Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata.]<br />
_________<br />
Foote Note.<br />
[1] Dari Al-Khaibah yaitu yang diharamkan, dikatakan khoba yakhibu jika tidak mendapat permintaannya mencapai tujuannya<br />
[2] Hadits Riwayat Bukhari 4/911<br />
[3] Iqal yaitu tali yang dipakai untuk mengikat unta, Mashabih 2/422<br />
[4] Hadits Riwayat Bukhari 4/113 dan Muslim 1090, dhahir ayat ini bahwa Adi dulunya hadir ketika turun ayat ini, berarti telah Islam, tetapi tidak demikian, karena diwajibkannya puasa tahun kedua dari hijrah, Adi masuk Islam tahun sembilan atau kesepuluh, adapun tafsir Adi ketika turun: yakni ketika aku masuk Islam dan dibacakan surat ini kepadaku, inilah yang rajih sebagaimana riwayat Ahmad 4/377: &#8220;Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengajari shalat dan puasa, beliau berkata: &#8220;Shalatlah begini dan begini dan puasalah, jika terbenam matahari makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dan benang hitam, puasalah tiga puluh hari, kecuali kalau engkau melihat hilal sebelum itu, aku mengambil dua benang dari rambut hitam dan putih&#8230;.hadits&#8221; Al-Fathul 4/132-133 dengan perubahan<br />
[5] Hadits Riwayat Ibnu Khuzaimah 3/210, Al-Hakim 1/191 dan 495, Daruquthni 2/165, Baihaqi 4/261 dari jalan Sufyan dari Ibnu Juraij dari Atha dari Ibnu Abbas, Sanadnya SHAHIH. Juga ada syahid dari Jabir, diriwayatkan oleh Hakim 1/191, Baihaqi 4/215, Daruquthni 2/165, Diikhtilafkan maushil atau mursal, dan syahid dari Tsauban, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 3/27.<br />
Sumber: <a href="http://www.almanhaj.or.id/content/1097/slash/0">http://www.almanhaj.or.id/content/1097/slash/0</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rumahilmu.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rumahilmu.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahilmu.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahilmu.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahilmu.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahilmu.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumahilmu.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumahilmu.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumahilmu.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumahilmu.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahilmu.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahilmu.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahilmu.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahilmu.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahilmu.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahilmu.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahilmu.wordpress.com&amp;blog=614759&amp;post=28&amp;subd=rumahilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/24/waktu-puasa-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af22681d128b16f91f69e1858c590a5f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pakdhe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Niat Puasa</title>
		<link>http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/24/niat-puasa/</link>
		<comments>http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/24/niat-puasa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Sep 2007 08:43:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pakdhe</dc:creator>
				<category><![CDATA[puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/24/niat-puasa/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syaikh Salim bin &#8216;Ied Al-Hilaaly Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid [1]. Wajibnya Niat Puasa Wajib Sebelum Terbit Fajar Jika telah jelas masuknya bulan Ramadhan dengan penglihatan mata atau persaksian atau dengan menyempurnakan bilangan bulan Sya&#8217;ban menjadi tiga puluh hari, maka wajib atas setiap muslim yang mukallaf untuk niat puasa di malam harinya, hal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahilmu.wordpress.com&amp;blog=614759&amp;post=27&amp;subd=rumahilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh<br />
Syaikh Salim bin &#8216;Ied Al-Hilaaly<br />
Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid</p>
<p>[1]. Wajibnya Niat Puasa Wajib Sebelum Terbit Fajar</p>
<p>Jika telah jelas masuknya bulan Ramadhan dengan penglihatan mata atau persaksian atau dengan menyempurnakan bilangan bulan Sya&#8217;ban menjadi tiga puluh hari, maka wajib atas setiap muslim yang mukallaf untuk niat puasa di malam harinya, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>&#8220;Artinya: Barangsiapa yang tidak niat untuk melakukan puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya&#8221; [1]<br />
<span id="more-27"></span><br />
Dan sabda beliau <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>&#8220;Artinya: Barangsiapa tidak niat untuk melakukan puasa pada malam harinya, maka tidak ada puasa baginya&#8221; [2]</p>
<p>Niat itu tempatnya di dalam hati, dan melafazdkannya adalah bid&#8217;ah yang sesat, walaupun manusia menganggapnya sebagai satu perbuatan baik. Kewajiban niat semenjak malam harinya ini hanya khusus untuk puasa wajib saja, karena Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah datang ke Aisyah pada selain bulan Ramadhan, kemudian beliau bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya: Apakah engkau punya santapan siang? Maka jika tidak ada aku akan berpuasa&#8221;  [Hadits Riwayat Muslim 1154]</p>
<p>Hal ini juga dilakukan oleh para sahabat, (seperti) Abu Darda&#8217;, Abu Thalhah, Abu Hurairah, Ibnu &#8216;Abbas, Hudzaifah Ibnul Yaman <em>Radhiyallahu &#8216;anhum</em> dibawah benderanya Sayyidnya bani Adam [Lihatlah  dan takhrijnya dalam Taghliqul Ta'liq 3/144-147]</p>
<p>Ini berlaku (hanya) pada puasa sunnah saja, dan hal ini menunjukkan wajibnya niat di malam harinya sebelum terbit fajar pada puasa wajib. <em>Wallahu Ta&#8217;ala a&#8217;lam</em></p>
<p>[2]. Kemampuan Adalah Dasar Pembebanan Syari&#8217;at</p>
<p>Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan tetapi dia tidak tahu sehingga diapun makan dan minum, kemudian baru tahu, maka dia harus menahan diri (makan, minum dan hal-hal yang membatalkan puasa lainnya, -ed) serta menyempurnakan puasanya tersebut (tidak perlu di qadha&#8217;). Barangsiapa yang belum makan dan minum (tetapi tidak tahu sudah masuk bulan Ramadhan), maka tidak disyaratkan baginya niat pada malam hari, karena hal itu tidak mampu dilakukannya (karena dia tidak tahu telah masuk Ramadhan-ed) dan termasuk dari ushul syari&#8217;at yang telah ditetapkan: &#8220;Kemampuan adalah dasar pembebanan Syari&#8217;at&#8221;.</p>
<p>Dari Aisyah <em>Radhiyallahu &#8216;anha</em>,  (dia berkata).</p>
<p>&#8220;Artinya: Adalah Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah memerintahkan puasa Asyura, maka ketika diwajibkan puasa Ramadhan, maka bagi yang mau puasa Asyura diperbolehkan, dan yang mau berbuka dipersilahkan&#8221; [Hadits Riwayat Bukhari 4/212 dan Muslim 1135]</p>
<p>Dan dari Salamah bin Al-Akwa&#8217; <em>Radhiyallahu anhu</em>, ia berkata.</p>
<p>&#8220;Artinya: Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menyuruh seorang dari bani Aslam untuk mengumumkan kepada manusia, bahwasanya barangsiapa yang sudah makan hendaklah puasa sampai maghrib, dan barangsiapa yang belum makan teruskanlah berpuasa karena hari ini adalah hari Asyura&#8221; [Hadits Riwayat Bukhari 4/216, Muslim 1135]</p>
<p>Puasa hari Asyura dulunya adalah wajib, kemudian dimansukh (dihapus kewajiban tersebut), mereka telah diperintahkan untuk tidak makan dari mulai siang dan itu cukup bagi mereka. Puasa Ramadhan adalah puasa wajib, maka hukumnya sama dengan puasa Asyura ketika masih wajib, tidak berubah (berbeda) sedikitpun.</p>
<p>[3]. Perbedaan Pendapat Sebagian Ulama</p>
<p>Ketahuilah saudara seiman, bahwa seluruh dalil menerangkan bahwa puasa Asyura ini wajib karena adanya perintah untuk puasa di hari tersebut sebagaimana pada hadits Aisyah, kemudian kewajiban ditekankan lagi karena diserukan secara umum, ditambah lagi dengan perintah orang yang makan untuk menahan diri (tidak makan lagi) sebagaimana dalam hadits Salamah bin Akwa&#8217; tadi, serta hadits Muhamamad bin Shaifi Al-Anshary: Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> keluar menemui kami pada hari Asyura kemudian beliau bersabda: &#8220;Apakah kalian puasa pada hari ini?&#8221; sebagian mereka menjawab: &#8220;Ya&#8221;  dan sebagian yang lainnya menjawab: &#8220;Tidak&#8221;  (Kemudian) beliau bersabda: &#8220;Sempurnakanlah puasa hari pada sisa hari ini&#8221;. Dan beliau menyuruh mereka untuk memberitahu penduduk Arrud (di) kota Madinah -untuk menyempurnakan sisa hari mereka&#8221; [3]</p>
<p>Yang memutuskan perselisihan ini adalah perkataan Ibnu Mas&#8217;ud  &#8220;Ketika diwajibkan puasa Ramadhan ditinggalkanlah Asyura&#8221;.</p>
<p>Dan ucapan Aisyah [5]: &#8220;Ketika turun kewajiban puasa Ramadhan, maka Ramadhanlah yang wajib dan ditinggalkanlah Asyura (berartti puasa Asyura tidak wajib lagi hukumnya -pent)</p>
<p>Walaupun demikian sunnahnya puasa Asyura tidak dihilangkan, sebagaimana yang dinukil Al-Hafidzh dalam Fathul Bari 4/264 dari Ibnu Abdil Barr. Maka jelas lah bahwa sunnahnya puasa Asyura masih ada, sedang yang dihapus hanya kewajibannya. <em>Wallahu a&#8217;lam</em>.</p>
<p>Sebagian (ahlul ilmi) yang lainnya menyatakan: Jika puasa wajib telah mansukh (dihapus), maka dihapus juga hukum-hukum yang menyertainya. Yang benar (bahwa) hadits-hadits tentang Asyura menunjukkan beberapa perkara (yaitu):</p>
<p>[a]. Wajibnya puasa Asyura<br />
[b]. Barangsiapa yang tidak niat di malam hari ketika puasa wajib sebelum terbitnya fajar karena tidak tahu,  maka tidaklah rusak puasanya, dan<br />
[c]. Barangsiapa makan dan minum kemudian tahu di sisa hari tersebut, maka tidak wajib mengqadha&#8217;</p>
<p>Yang mansukh adalah perkara yang pertama, hingga Asyura hanyalah sunnah sebagaimana yang telah dijelaskan. Dimansukhkannya hukum tersebut bukan berarti menghapus hukum-hukum lainnya. <em>Wallahu a&#8217;lam</em>.</p>
<p>Mereka berdalil dengan hadits Abu Dawud 2447 dan Ahmad 5/409 dari jalan Qatadah dari Abdurrahman bin Salamah dari pamannya, ia berkata: &#8220;Bahwa bani Aslam pernah mendatangi Nabi, kemudian beliau bersabda: &#8220;Kalian puasa hari ini?&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Tidak&#8221; Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8220;Sempurnakanlah sisa hari ini kemudian qadha&#8217;lah kalian&#8221;</p>
<p>Hadits ini lemah karena ada dua illat (cacat) yaitu:</p>
<p>[1]. Majhulnya (tidak dikenalnya) Abdurrahman bin Salamah. Adz-Dzahabi berkata tentangnya di dalam Al-Mizan 2/567: &#8220;(Dia)  tidak dikenal&#8221;  Al-Hafidz berkata dalam At-Tahdzib  &#8220;Keduanya majhul&#8221;. Dibawakan oleh Ibnu Abi Hatim di dalam Al-Jarhu wa Ta&#8217;dil 5/288, tidak disebutkan padanya Jarh atau Ta&#8217;dil.</p>
<p>[2]. Ada &#8216;an-anah Qatadah, padahal dia seorang mudallis</p>
<p>[Disalin dari Kitab <em>Sifat Shaum Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan</em>, edisi Indonesia Sifat Puasa Nabi <em>Shallallahu 'alaihi wa sallam</em> oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, terbitan Pustaka Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata]<br />
_________<br />
Foote Note.<br />
[1]. Hadits Riwayat Abu Dawud 2454, Ibnu Majah 1933, Al-Baihaqi 4/202 dari jalan Ibnu Wahb dari Ibnu Lahi&#8217;ah dari Yahya bin Ayub dari Abdullah bin Abu Bakar bin Hazm dari Ibnu Syihab, dari Salim bin Abdillah, dari bapaknya, dari Hafshah. Dalam  satu lafadz pada riwayat Ath-Thahawi dalam Syarah Ma&#8217;anil Atsar 1/54: &#8220;Niat di malam hari&#8221;  dari jalan dirinya sendiri. Dan dikeluarkan An-Nasa&#8217;i 4/196, Tirmidzi 730 dari jalan lain dari Yahya, dan sanadnya Shahih<br />
[2]. Hadits Riwayat An-Nasa&#8217;i 4/196, Al-Baihaqi 4/202, Ibnu Hazm 6/162 dari jalan Abdurrazaq dari Ibnu Juraij, dari Ibnu Syihab, sanadnya shahih kalau tidak ada &#8216;an-anah Ibnu Juraij, akan tetapi shahih dengan riwayat sebelumnya<br />
[3]. Hadits Riwayat Ibnu Khuzaimah 3/389, Ahmad 4/388, An-Nasa&#8217;i 4/192, Ibnu Majah 1/552, At-Thabrani dalam Al-Kabir 18/238 dari jalan As-Sya&#8217;bi darinya. Dengan sanad yang Shahih.<br />
[4]. Hadits Riwayat Muslim 1127<br />
[5]. Hadits Riwayat Muslim 1125<br />
Sumber: <a href="http://www.almanhaj.or.id/content/1093/slash/0">http://www.almanhaj.or.id/content/1093/slash/0</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rumahilmu.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rumahilmu.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahilmu.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahilmu.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahilmu.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahilmu.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumahilmu.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumahilmu.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumahilmu.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumahilmu.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahilmu.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahilmu.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahilmu.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahilmu.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahilmu.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahilmu.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahilmu.wordpress.com&amp;blog=614759&amp;post=27&amp;subd=rumahilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/24/niat-puasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af22681d128b16f91f69e1858c590a5f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pakdhe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Derajat Hadits Bacaan Waktu Berbuka Puasa Dan Kelemahan Beberapa Hadits Keutamaan Puasa</title>
		<link>http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/23/derajat-hadits-bacaan-waktu-berbuka-puasa-dan-kelemahan-beberapa-hadits-keutamaan-puasa/</link>
		<comments>http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/23/derajat-hadits-bacaan-waktu-berbuka-puasa-dan-kelemahan-beberapa-hadits-keutamaan-puasa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Sep 2007 04:38:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pakdhe</dc:creator>
				<category><![CDATA[puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/23/derajat-hadits-bacaan-waktu-berbuka-puasa-dan-kelemahan-beberapa-hadits-keutamaan-puasa/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat Dibawah ini akan saya turunkan beberapa hadits tentang dzikir atau do&#8217;a di waktu berbuka puasa Kemudian akan saya terangkan satu persatu derajatnya sekalian. Maka, apa-apa yang telah saya lemahkan (secara ilmu hadits) tidak boleh dipakai atau diamalkan lagi, dan mana yang telah saya nyatakan syah (shahih atau hasan) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahilmu.wordpress.com&amp;blog=614759&amp;post=26&amp;subd=rumahilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh<br />
Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat</p>
<p>Dibawah ini akan saya turunkan beberapa hadits tentang dzikir atau do&#8217;a di waktu berbuka puasa Kemudian akan saya terangkan satu persatu derajatnya sekalian. Maka, apa-apa yang telah saya lemahkan (secara ilmu hadits) tidak boleh dipakai atau diamalkan lagi, dan mana yang telah saya nyatakan syah (shahih atau hasan) bolehlah saudara-saudara amalkan. Kemudian saya iringi dengan tambahan keterangan tentang kelemahan beberapa hadits lemah/dla&#8217;if tentang keutamaan puasa yang sering dibacakan di mimbar-mimbar khususnya di bulan Ramadhan.</p>
<p><span id="more-26"></span><br />
Hadits Pertama</p>
<p>&#8220;Artinya: &#8220;Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Adalah Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan: <em>Allahumma Laka Shumna wa ala Rizqika Aftharna, Allahumma Taqabbal Minna Innaka Antas Samiul &#8216;Alim</em> (artinya: Ya Allah! untuk-Mu aku berpuasa dan atas rizkqi dari-Mu kami berbuka. Ya Allah! Terimalah amal-amal kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui)&#8221;. [Riwayat: Daruqutni di kitab Sunannya, Ibnu Sunni di kitabnya 'Amal Yaum wa-Lailah No. 473. Thabrani di kitabnya Mu'jamul Kabir]</p>
<p>Sanad hadits ini sangat Lemah/Dloif</p>
<p>Pertama:<br />
Ada seorang rawi yang bernama: Abdul Malik bin Harun bin &#8216;Antarah.<br />
Dia ini rawi yang sangat lemah.<br />
[1]. Kata Imam Ahmad bin Hambal: Abdul Malik Dlo&#8217;if<br />
[2]. Kata Imam Yahya: Kadzdzab (pendusta)<br />
[3]. Kata Imam Ibnu Hibban: Pemalsu hadits<br />
[4]. Kata Imam Dzahabi: Dia dituduh pemalsu hadits<br />
[5]. Kata Imam Abu Hatim: Matruk (orang yang ditinggalkan riwayatnya)<br />
[6]. Kata Imam Sa&#8217;dy: Dajjal, pendusta.</p>
<p>Kedua:<br />
Di sanad hadits ini juga ada bapaknya Abdul Malik yaitu: Harun bin &#8216;Antarah. Dia ini rawi yang diperselisihkan oleh para ulama ahli hadits. Imam Daruquthni telah melemahkannya. Sedangkan Imam Ibnu Hibban telah berkata: &#8220;Munkarul hadits (orang yang diingkari haditsnya), sama sekali tidak boleh berhujjah dengannya&#8221;.</p>
<p>Hadits ini telah dilemahkan oleh Imam Ibnul Qoyyim, Ibnu Hajar, Al-Haitsami dan Al-Albani dan lain-lain</p>
<p>Periksalah kitab-kitab:<br />
[1]. Mizanul I&#8217;tidal 2/666<br />
[2]. Majmau Zawaid 3/156 oleh Imam Haitsami<br />
[3]. Zaadul Ma&#8217;ad di kitab Shiyam/Puasa oleh Imam Ibnul Qoyyim<br />
[4]. Irwaul Ghalil 4/36-39 oleh Muhaddist Al-Albani.</p>
<p>Hadits Kedua.</p>
<p>&#8220;Artinya: Dari Anas, ia berkata: Adalah Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> apabila berbuka beliau mengucapkan: <em>Bismillahi, Allahumma Laka Shumtu Wa Alla Rizqika Aftartu</em> (artinya: Dengan nama Allah, Ya Allah karena-Mu aku berbuka puasa dan atas rizqi dari-Mu aku berbuka)&#8221;. [Riwayat: Thabrani di kitabnya Mu'jam Shagir hal 189 dan Mu'jam Awshath]</p>
<p>Sanad hadits ini Lemah/Dlo&#8217;if</p>
<p>Pertama:<br />
Di sanad hadist ini ada Ismail bin Amr Al-Bajaly.<br />
Dia seorang rawi yang lemah.<br />
[1]. Imam Dzahabi mengatakan di kitabnya Adl-Dhu&#8217;afa: Bukan hanya satu orang saja yang telah melemahkannya.<br />
[2]. Kata Imam Ibnu &#8216;Ady: Ia menceritakan hadits-hadits yang tidak boleh diturut.<br />
[3]. Kata Imam Abu Hatim dan Daruquthni: Lemah!<br />
[4]. Saya berkata Dia inilah yang meriwayatkan hadits lemah bahwa imam tidak boleh adzan (lihat: Mizanul I&#8217;tidal 1/239).</p>
<p>Kedua:<br />
Di sanad ini juga ada Dawud bin Az-Zibriqaan.<br />
[1]. Kata Al-Albani: Dia ini lebih jelek dari Ismail bin Amr Al-Bajaly.<br />
[2]. Kata Imam Abu Dawud, Abu Zur&#8217;ah dan Ibnu Hajar: Matruk.<br />
[3]. Kata Imam Ibnu &#8216;Ady: Umumnya apa yang ia riwayatkan tidak boleh diturut (lihat Mizanul I&#8217;tidal 2/7)<br />
[4]. Saya berkata: Al-Ustadz Abdul Qadir Hassan membawakan riwayat Thabrani ini di kitabnya Risalah Puasa akan tetapi beliau diam tentang derajat hadits ini ?</p>
<p>Hadits Ketiga</p>
<p>&#8220;Artinya: Dari Muadz bin Zuhrah, bahwasanya telah sampai kepadanya, sesungguhnya Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan: Allahumma Laka Sumtu &#8230;..&#8221; [Riwayat: Abu Dawud No. 2358, Baihaqi 4/239, Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Sunniy]</p>
<p>Lafadz dan arti bacaan di hadits ini sama dengan riwayat/hadits yang ke 2 kecuali awalnya tidak pakai Bismillah.</p>
<p>Dan sanad hadits ini mempunyai dua penyakit.</p>
<p>Pertama:<br />
&#8220;Mursal, karena Mu&#8217;adz bin (Abi) Zur&#8217;ah seorang Tabi&#8217;in bukan shahabat Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. (hadits Mursal adalah: seorang tabi&#8217;in meriwayatkan langsung dari Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, tanpa perantara shahabat).</p>
<p>Kedua:<br />
&#8220;Selain itu, Mu&#8217;adz bin Abi Zuhrah ini seorang rawi yang Majhul. Tidak ada yang meriwayatkan dari padanya kecuali Hushain bin Abdurrahman. Sedang Ibnu Abi Hatim di kitabnya Jarh wat Ta&#8217;dil tidak menerangkan tentang celaan dan pujian baginya&#8221;.</p>
<p>Hadits Keempat<br />
&#8220;Artinya: Dari Ibnu Umar, adalah Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan: <em>DZAHABAZH ZHAAMA-U WABTALLATIL &#8216;URUQU WA TSABATAL AJRU INSYA ALLAH</em> (artinya: Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan/urat-urat, dan telah tetap ganjaran/pahala, Insya allah). [Hadits HASAN, riwayat: Abu Dawud No. 2357, Nasa'i 1/66. Daruquthni dan ia mengatakan sanad hadits ini HASAN. Hakim 1/422 Baihaqy 4/239]</p>
<p>Al-Albani menyetujui apa yang dikatakn Daruquhni.!</p>
<p>Saya berkata: Rawi-rawi dalam sanad hadits ini semuanya kepercayaan (tsiqah), kecuali Husain bin Waaqid seorang rawi yang tsiqah tapi padanya ada sedikit kelemahan (Tahdzibut-Tahdzib 2/373). Maka tepatlah kalau dikatakan hadits ini HASAN.</p>
<p>Kesimpulan.<br />
[1]. Hadits yang ke 1,2 dan 3 karena tidak syah (sangat dloif dan dloif) maka tidak boleh lagi diamalkan.</p>
<p>[2]. Sedangkan hadits yang ke 4 karena riwayatnya telah syah maka bolehlah kita amalkan jika kita suka (karena hukumnya sunnat saja).</p>
<p>BEBERAPA HADITS LEMAH TENTANG KEUTAMAAN PUASA</p>
<p>Hadits Pertama</p>
<p>&#8220;Artinya: Awal bulan Ramadhan merupakan rahmat, sedang pertengahannya merupakan magfhiroh (ampunan), dan akhirnya merupakan pembebasan dari api neraka&#8221;. [Riwayat: Ibnu Abi Dunya, Ibnu Asakir, Dailami dll. dari jalan Abu Hurairah]</p>
<p>Derajat hadits ini: DLAIFUN JIDDAN (sangat lemah).<br />
Periksalah kitab: Dla&#8217;if Jamius Shagir wa Ziyadatihi no. 2134, Faidhul Qadir No. 2815.</p>
<p>Hadits Kedua:</p>
<p>&#8220;Artinya: Dari Salman Al-Farisi, ia berkata: Rasulullah <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>. Pernah berkhutbah kepada kami di hari terakhir bulan Sya&#8217;ban. Beliau bersabda: &#8220;Wahai manusia! Sesungguhnya akan menaungi kamu satu bulan yang agung penuh berkah, bulan yang didalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan yang Allah telah jadikan puasanya sebagai suatu kewajiban dan shalat malamnya sunat, barang siapa yang beribadat di bulan itu dengan satu cabang kebaikan, adalah dia seperti orang yang menunaikan kewajiban di bulan lainnya, dan barangsiapa yang menunaikan kewajiban di bulan itu adalah dia seperti orang yang menunaikan tujuh puluh kewajiban di bulan lainnya. Dia itulah bulan shabar, sedangkan keshabaran itu ganjarannya surga&#8230;. dan dia bulan yang awalnya rahmat, dan tengahnya magfiroh (ampunan) dan akhirnya pembebasan dari api neraka&#8230;&#8221; [Riwayat: Ibnu Khuzaimah No. hadits 1887 dan lain-lain]</p>
<p>Sanad Hadits ini DLAIF. Karena ada seorang rawi bernama: Ali bin Zaid bin Jud&#8217;an. Dia ini rawi yang lemah sebagaimana diterangkan oleh Imam Ahmad, Yahya, Bukhari, Daruqhutni, Abi Hatim, dan lain-lain.</p>
<p>Dan Imam Ibnu Khuzaimah sendiri berkata: Aku tidak berhujah dengannya karena jelek hafalannya.</p>
<p>Imam Abu Hatim mengatakan: Hadits ini Munkar!!</p>
<p>Periksalah kitab: Silsilah Ahaadits Dloif wal Maudluah No. 871, At-Targhib Wat-Tarhieb jilid 2 halaman 94, Mizanul I&#8217;tidal jilid 3 halaman 127.</p>
<p>Hadits Ketiga</p>
<p>&#8220;Artinya: Orang yang berpuasa itu tetap didalam ibadat meskipun ia tidur di atas kasurnya&#8221;. [Riwayat: Tamam]</p>
<p>Sanad Hadits ini DLA&#8217;IF. Karena di sanadnya ada: Yahya bin Abdullah bin Zujaaj dan Muhammad bin Harun bin Muhammad bin Bakkar bin Hilal. Kedua orang ini gelap keadaannnya karena kita tidak jumpai keterangan tentang keduanya di kitab-kitab Jarh Wat-Ta&#8217;dil (yaitu kitab yang menerangkan cacat/cela dan pujian tiap-tiap rawi hadits). Selain itu di sanad hadits ini juga ada Hasyim bin Abi Hurairah Al-Himsi seorang rawi yang Majhul (tidak dikenal keadaannya dirinya). Sebagaimana diterangkan Imam Dzahabi di kitabnya Mizanul I&#8217;tidal, dan Imam &#8216;Uqail berkata: Munkarul Hadits !!</p>
<p>Kemudian hadits yang semakna dengan ini juga diriwayatkan oleh Dailami di kitabnya Musnad Firdaus dari jalan Anas bin Malik yang lafadnya sebagai berikut:</p>
<p>&#8220;Artinya:&#8221;Orang yang berpuasa itu tetap di dalam ibadat meskipun ia tidur diatas kasurnya&#8221;.</p>
<p>Sanad hadits ini Maudlu&#8217;/Palsu. Karena ada seorang rawi yang bernama Muhammad bin Ahmad bin Suhail, dia ini seorang yang tukang pemalsu hadits, demikian diterangkan Imam Dzahabi di kitabnya Adl-Dluafa.</p>
<p>Periksalah kitab : Silsilah Ahaadist Dla&#8217;if wal Maudl&#8217;uah No. 653, Faidlul Qadir No. hadits 5125.</p>
<p>Hadits Keempat.</p>
<p>&#8220;Artinya: Tidurnya orang yang berpuasa itu dianggap ibadah, dan diamnya merupakan tasbih, dan amalnya (diganjari) berlipat ganda, dan do&#8217;anya mustajab, sedang dosanya diampuni&#8221; [Riwayat: Baihaqy di kitabnya Su'abul Iman, dari jalan Abdullah bin Abi Aufa]</p>
<p>Hadits ini derajadnya sangat Dla&#8217;if atau Maudlu. Karena di sanadnya ada Sulaiman bin Umar An-Nakha&#8217;i, salah seorang pendusta  Faidlul Qadir No. 9293).</p>
<p>Hadits Kelima.</p>
<p>&#8220;Artinya: Puasa itu setengah dari pada sabar&#8221; [Riwayat : Ibnu Majah].</p>
<p>Kata Imam Ibnu Al-Arabi: Hadits (ini) sangat lemah !</p>
<p>Hadist Keenam.</p>
<p>&#8220;Artinya: Puasa itu setengah dari pada sabar, dan atas tiap-tiap sesuatu itu ada zakatnya, sedang zakat badan itu ialah puasa&#8221; [Riwayat : Baihaqy di kitabnya Su'abul Iman dari jalan Abu Hurairah].</p>
<p>Hadits ini sangat lemah !<br />
[1]. Ada Muhammad bin Ya&#8217;kub, Dia mempunyai riwayat-riwayat yang munkar. Demikian diterangkan oleh Imam Dzahabi di kitabnya Adl-Dluafa<br />
[2]. Ada Musa bin &#8216;Ubaid. Ulama ahli hadits. Imam Ahmad berkata: Tidak boleh diterima riwayat dari padanya (baca: Faidlul Qodir no. 5201).</p>
<p>Itulah beberapa hadits lemah tentang keutamaan puasa dan bulannya. Selain itu masih banyak lagi hadits-hadits lemah tentang bab ini. Hadits-hadits di atas sering kali kita dengar dibacakan di mimbar-mimbar khususnya pada bulan Ramadhan oleh para penceramah.[1]</p>
<p>[Disalin dari kitab Al-Masaa-il (Masalah-Masalah Agama)- Jilid ke satu, Penulis Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Terbitan Darul Qolam - Jakarta, Cetakan ke III Th 1423/2002M]<br />
_________<br />
Foote Note<br />
[1]. Ditulis tanggal 7-11-1986<br />
Sumber : <a href="http://www.almanhaj.or.id/content/1927/slash/0">http://www.almanhaj.or.id/content/1927/slash/0</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rumahilmu.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rumahilmu.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahilmu.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahilmu.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahilmu.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahilmu.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumahilmu.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumahilmu.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumahilmu.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumahilmu.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahilmu.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahilmu.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahilmu.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahilmu.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahilmu.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahilmu.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahilmu.wordpress.com&amp;blog=614759&amp;post=26&amp;subd=rumahilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/23/derajat-hadits-bacaan-waktu-berbuka-puasa-dan-kelemahan-beberapa-hadits-keutamaan-puasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af22681d128b16f91f69e1858c590a5f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pakdhe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berbuka Puasa (2)</title>
		<link>http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/23/berbuka-puasa-2/</link>
		<comments>http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/23/berbuka-puasa-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Sep 2007 04:17:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pakdhe</dc:creator>
				<category><![CDATA[puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/23/berbuka-puasa-2/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syaikh Salim bin &#8216;Ied Al-Hilaaly Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid [3]. Berbuka Dengan Apa ? Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berbuka dengan korma, kalau tidak ada korma dengan air, ini termasuk kesempurnaan kasih sayang dan semangatnya Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam (untuk kebaikan) umatnya dan dalam menasehati mereka. Allah berfirman. &#8220;Artinya: Sesungguhnya telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahilmu.wordpress.com&amp;blog=614759&amp;post=25&amp;subd=rumahilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh<br />
Syaikh Salim bin &#8216;Ied Al-Hilaaly<br />
Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid</p>
<p>[3]. Berbuka Dengan Apa ?</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berbuka dengan korma, kalau tidak ada korma dengan air, ini termasuk kesempurnaan kasih sayang dan semangatnya Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> (untuk kebaikan) umatnya dan dalam menasehati mereka. Allah berfirman.</p>
<p>&#8220;Artinya: Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan olehmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin&#8221; [At-Taubah: 128]</p>
<p><span id="more-25"></span>Karena memberikan ke tubuh yang kosong sesuatu yang manis, lebih membangkitkan selera dan bermanfaat bagi badan, terutama badan yang sehat, dia akan menjadi kuat dengannya (korma). Adapun air, karena badan ketika dibawa puasa menjadi kering, jika didinginkan dengan air akan sempurna manfaatnya dengan makanan.</p>
<p>Ketahuilah wahai hamba yang taat, sesungguhnya korma mengandung berkah dan kekhususan -demikian pula air- dalam pengaruhnya terhadap hati dan mensucikannya, tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang yang berittiba&#8217;. Dari Anas bin Malik <em>Radhiyallahu &#8216;anhu</em> (ia berkata):</p>
<p>&#8220;Artinya: Adalah Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berbuka dengan korma basah (ruthab), jika tidak ada ruthab maka berbuka dengan korma kering (tamr), jika tidak ada tamr maka minum dengan satu tegukan air&#8221;[5]</p>
<p>[4]. Yang Diucapkan Ketika Berbuka</p>
<p>Ketahuilah wahai saudaraku yang berpuasa &#8211; mudah-mudahan Allah memberi taufiq kepada kita untuk mengikuti sunnah Nabi-Nya <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>- sesungguhnya engkau punya do&#8217;a yang dikabulkan, maka manfaatkanlah, berdo&#8217;alah kepada Allah dalam keadaan engkau yakin akan dikabulkan, -ketahuilah sesungguhnya Allah tidak mengabulkan do&#8217;a dari hati yang lalai-. Berdo&#8217;alah kepada-Nya dengan apa yang kamu mau dari berbagai macam do&#8217;a yang baik, mudah-mudahan engkau bisa mengambil kebaikan di dunia dan akhirat.</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>Radhiyallahu &#8216;anhu</em>, Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya: Tiga do&#8217;a yang dikabulkan: do&#8217;anya orang yang berpuasa, do&#8217;anya orang yang terdhalimi dan do&#8217;anya musafir&#8221; [6]</p>
<p>Do&#8217;a yang tidak tertolak ini adalah ketika waktu engkau berbuka berdasarkan hadits dari Abu Hurairah <em>Radhiyallahu &#8216;anhu</em> bahwasanya Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya: Tiga orang yang tidak akan ditolak do&#8217;anya: orang yang puasa ketika berbuka, Imam yang adil dan do&#8217;anya orang yang didhalimi&#8221; [7]</p>
<p>Dari Abdullah bin Amr bin Al &#8216;Ash, Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya: Sesungguhnya orang yang puasa ketika berbuka memeliki doa yang tidak akan ditolak&#8221; [8]</p>
<p>Do&#8217;a yang paling afdhal adalah do&#8217;a ma&#8217;tsur dari Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, bahwa beliau jika berbuka mengucapkan.</p>
<p><em>Dzahaba al-dhoma&#8217;u wabtali al-&#8217;uruuqu watsabbati al-ajru insya Allah</em></p>
<p>&#8220;Artinya: Telah hilang dahaga dan telah basah urat-urat, dan telah ditetapkan pahala Insya Allah&#8221; [9]</p>
<p>[5]. Memberi Makan Orang Yang Puasa</p>
<p>Bersemangatlan wahai saudaraku -mudah-mudahan Allah memberkatimu dan memberi taufik kepadamu untuk mengamalkan kebajikan dan taqwa- untuk memberi makan orang yang puasa karena pahalanya besar dan kebaikannya banyak.</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya: Barangsiapa yang memberi buka orang yang puasa akan mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun&#8221; [10]</p>
<p>Orang yang puasa harus memenuhi undangan (makan) saudaranya, karena barangsiapa yang tidak menghadiri undangan berarti telah durhaka kepada Abul Qasim <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, dia harus berkeyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan sedikitpun amal kebaikannya, tidak akan dikurangi pahalanya sedikitpun.</p>
<p>Orang yang diundang disunnahkan mendo&#8217;akan pengundangnya setelah selesai makan dengan do&#8217;a-do&#8217;a dari Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.<br />
&#8220;Artinya: Telah makan makanan kalian orang-orang bajik, dan para malaikat bershalawat (mendo&#8217;akan kebaikan) atas kalian, orang-orang yang berpuasa telah berbuka di sisi kalian&#8221; [11]</p>
<p>&#8220;Artinya: Ya Allah, berilah makan orang yang memberiku makan berilah minum orang yang memberiku minum&#8221; [Hadits Riwayat Muslim 2055 dari Miqdad]</p>
<p>&#8220;Artinya : Ya Allah, ampunilah mereka dan rahmatilah, berilah barakah pada seluruh rizki yang Engkau berikan&#8221; [Hadits Riwayat Muslim 2042 dari Abdullah bin Busrin]</p>
<p>[Disalin dari Kitab <em>Sifat Shaum Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan</em>, edisi Indonesia Sifat Puasa Nabi <em>Shallallahu 'alaihi wa sallam</em> oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, terbitan Pustaka Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata]<br />
________<br />
Foote Note.<br />
[5]. Hadits Riwayat Ahmad (3/163), Abu Dawud (2/306), Ibnu Khuzaimah (3/277,278), Tirmidzi 93/70) dengan dua jalan dari Anas, sanadnya shahih<br />
[6]. Hadits Riwayat Uqaili dalam Ad-Dhu&#8217;afa&#8217; (1/72), Abu Muslim Al-Kajji dalam Juz-nya, dan dari jalan Ibnu Masi dalam Juzul Anshari { } sanadnya hasan kalau tidak ada &#8216;an-&#8217;annah Yahya bin Abi Katsir, hadits ini punya syahid yaitu hadits selanjutnya.<br />
[7]. Hadits Riwayat Tirmidzi (2528), Ibnu Majah (1752), Ibnu Hibban (2407) ada jahalah Abu Mudillah.<br />
[8]. Hadits Riwayat Ibnu Majah (1/557), Hakim (1/422), Ibnu Sunni (128), Thayalisi (299) dari dua jalan Al-Bushiri berkata : (2/81) ini sanad yang shahih, perawi-perawinya tsiqat.<br />
[9]. Hadits Riwayat Abu Dawud 92/306), Baihaqi (4/239), Al-Hakim (1/422) Ibnu Sunni (128), Nasaai dalam &#8216;Amalul Yaum (296), Daruquthni (2/185) dia berkata : &#8220;sanadnya hasan&#8221;. Aku katakan : memang seperti ucapannya.<br />
[10]. Hadits Riwayat Ahmad (4/144,115,116,5/192) Tirmidzi (804), ibnu Majah (1746), Ibnu Hibban (895), dishahihkan oleh Tirmidzi.<br />
[11]. Hadits Riwayat Abi Syaibah (3/100), Ahmad (3/118), Nasa&#8217;i dalam &#8216;Amalul Yaum&#8221; (268), Ibnu Sunni (129), Abdur Razak (4/311) dari berbagai jalan darinya, sanadnya shahih</p>
<p>Peringatan.<br />
Apa yang ditambahkan oleh sebagian orang tentang hadits ini: &#8220;Allah menyebutkan di majlis-Nya&#8221; adalah tidak ada asalanya. Perhatikan !!<br />
Sumber : <a href="http://www.almanhaj.or.id/content/1121/slash/0">http://www.almanhaj.or.id/content/1121/slash/0</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rumahilmu.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rumahilmu.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahilmu.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahilmu.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahilmu.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahilmu.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumahilmu.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumahilmu.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumahilmu.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumahilmu.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahilmu.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahilmu.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahilmu.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahilmu.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahilmu.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahilmu.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahilmu.wordpress.com&amp;blog=614759&amp;post=25&amp;subd=rumahilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/23/berbuka-puasa-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af22681d128b16f91f69e1858c590a5f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pakdhe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berbuka Puasa (1)</title>
		<link>http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/23/berbuka-puasa-1/</link>
		<comments>http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/23/berbuka-puasa-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Sep 2007 04:07:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pakdhe</dc:creator>
				<category><![CDATA[puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/23/berbuka-puasa-1/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syaikh Salim bin &#8216;Ied Al-Hilaaly Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid [1]. Kapan Orang Yang Puasa Berbuka ? Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman. &#8220;Artinya: Kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam&#8221; [Al-Baqarah: 187] Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menafsirkan dengan datangnya malam dan perginya siang serta sembunyinya bundaran matahari. Kami telah membawakan (penjelasan ini pada pembahasan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahilmu.wordpress.com&amp;blog=614759&amp;post=24&amp;subd=rumahilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh<br />
Syaikh Salim bin &#8216;Ied Al-Hilaaly<br />
Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid</p>
<p>[1]. Kapan Orang Yang Puasa Berbuka ?</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman.</p>
<p>&#8220;Artinya: Kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam&#8221; [Al-Baqarah: 187]</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menafsirkan dengan datangnya malam dan perginya siang serta sembunyinya bundaran matahari. Kami telah membawakan (penjelasan ini pada pembahasan yang telah lalu,-ed) agar menjadi tenang hati seorang muslim yang mengikuti sunnatul huda.<br />
<span id="more-24"></span><br />
Wahai hamba Allah, inilah perkataan-perkataan Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ada di hadapanmu dapatlah engkau membacanya, dan keadaannya yang sudah jelas dan telah engkau ketahui, serta perbuatan para sahabatnya, <em>Radhiyallahu &#8216;anhum</em> telah kau lihat, mereka telah mengikuti apa yang dibawa oleh <em>Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Syaikh Abdur Razaq telah meriwayatkan dalam Mushannaf 7591 dengan sanad yang dishahihkan oleh Al-Hafidz dalam Fathul Bari 4/199 dan al-Haitsami dalam Majma&#8217; Zawaid 3/154 dari Amr bin Maimun Al Audi.</p>
<p>&#8220;Para sahabat Muhammad <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah orang-orang yang paling bersegera dalam berbuka dan paling akhir dalam sahur&#8221;</p>
<p>[2]. Menyegerakan Berbuka</p>
<p>Wahai saudaraku seiman, wajib atasmu berbuka ketika matahari telah terbenam, janganlah dihiraukan oleh rona merah yang masih terlihat di ufuk, dengan ini berarti engkau telah mengikuti sunnah Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan menyelisihi Yahudi dan Nasrani, karena mereka mengakhirkan berbuka. Pengakhiran mereka itu sampai pada waktu tertentu yakni hingga terbitnya bintang. Maka dengan mengikuti jalan dan manhaj Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berarti engkau menampakkan syiar-syiar agama, memperkokoh petunjuk yang kita jalani, yang kita harapkan jin dan manusia berkumpul diatasnya. Hal-hal tersebut dijelaskan oleh Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pada paragraf-paragraf yang akan datang.</p>
<p>[a]. Menyegerakan Buka Berarti Menghasilkan Kebaikan.</p>
<p>Dari Sahl bin Sa&#8217;ad <em>Radhiyallahu &#8216;anhu</em>, Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya: Senantiasa manusia di dalam kebaikan selama menyegerakan berbuka&#8221;  [Hadits Riwayat Bukhari 4/173 dan Muslim 1093]</p>
<p>[b].    Menyegerakan Berbuka Adalah Sunnah Rasul <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></p>
<p>Jika umat Islamiyah menyegerakan berbuka berarti mereka tetap di atas sunnah Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan manhaj Salafus Shalih, dengan izin Allah mereka tidak akan tersesat selama &#8220;berpegang dengan Rasul mereka (dan) menolak semua yang merubah sunnah&#8221;.</p>
<p>Dari Sahl bin Sa&#8217;ad <em>Radhiyallahu &#8216;anhu</em>, Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya: Umatku akan senantiasa dalam sunnahku selama mereka tidak menunggu bintang ketika berbuka (puasa)&#8221; [1].</p>
<p>[c]. Menyegerakan Buka Berarti Menyelisihi Yahudi dan Nashrani</p>
<p>Tatkala manusia senantiasa berada di atas kebaikan dikarenakan mengikuti manhaj Rasul mereka, memelihara sunnahnya, karena sesungguhnya Islam (senantiasa) tetap tampak dan menang, tidak akan memudharatkan orang yang menyelisihinya, ketika itu umat Islam akan menjadi singa pemberani di lautan kegelapan, tauladan yang baik untuk diikuti, karena mereka tidak menjadi pengekor orang Timur dan Barat, (yaitu) pengikut semua yang berteriak, dan condong bersama angin kemana saja angin bertiup.</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>Radhiyallahu &#8216;anhu</em>, Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya: Agama ini akan senantiasa menang selama manusia menyegerakan berbuka [2], karena orang-orang Yahudi dan Nasrani mengakhirkannya&#8221; [Hadits Riwayat Abu Dawud 2/305, Ibnu Hibban 223, sanadnya Hasan]</p>
<p>Kami katakan:</p>
<p>Hadits-hadits di atas mempunyai banyak faedah dan catatan-catatan penting, sebagai berikut.</p>
<p>Kemenangan agama ini dan berkibarnya bendera akan tercapai dengan syarat menyelisihi orang-orang sebelum kita dari kalangan Ahlul Kitab, ini sebagai penjelasan bagi umat Islam, bahwa mereka akan mendapatkan kebaikan yang banyak, jika membedakan diri dan tidak condong ke Barat ataupun ke Timur, menolak untuk mengekor Kremlin atau mencari makan di Gedung Putih -mudah-mudahan Allah merobohkannya-, jika umat ini berbuat demikian mereka akan menjadi perhiasan diantara umat manusia, jadi pusat perhatian, disenangi oleh semua hati. Hal ini tidak akan terwujud, kecuali dengan kembali kepada Islam, berpegang dengan Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah dalam masalah Aqidah dan Manhaj.</p>
<p>Berpegang dengan Islam baik secara global maupun rinci, berdasarkan firman Allah:  Hai orang-orang  yang beriman, masuklah kamu dalam Islam secara kaffah&#8221;  208] Atas dasar inilah, maka ada yang membagi Islam menjadi inti dan kulit, (ini adalah pembagian) bid&#8217;ah jahiliyah modern yang bertujuan mengotori fikrah kaum muslimin dan memasukkan mereka ke dalam lingkaran kekhawatiran. (Hal ini) tidak ada asalnya dalam agama Allah, bahkan akhirnya akan merembet kepada perbuatan orang-orang yang dimurkai Allah, (yaitu) mereka yang mengimani sebagian kitab dan mendustakan sebagian yang lainnya; Kita diperintah untuk menyelisihi mereka secara global maupun terperinci, dan sungguh! kita mengetahui buah dari menyelisihi Yahudi dan Nasrani adalah tetap (tegak)nya agama lahir dan batin.</p>
<p>Dakwah ke jalan Allah dan memberi peringatan kepada mukminin tidak akan terputus, perkara-perkara baru yang menimpa umat Islam tidak menyebabkan kita memilah syiar-syiar Allah, jangan sampai kita mengatakan seperti perkataan kebanyak mereka: &#8220;Ini perkara-perkara kecil, furu&#8217;. khilafiyah dan hawasyiyah, kita wajib meninggalkannya, kita pusatkan kesungguhan kita untuk perkara besar yang memecah belah shaf kita dan mencerai beraikan barisan kita.</p>
<p>Perhatikan wahai kaum muslimin, da&#8217;i ke jalan Allah di atas basyirah, engkau telah tahu dari hadits-hadits yang mulia bahwa jayanya agama ini bergantung pada disegerakannya berbuka puasa yang dilakukan tatkala lingkaran matahari telah terbenam, Maka bertaqwalah kepada Allah (wahai) setiap orang yang menyangka berbuka ketika terbenamnya matahari adalah fitnah, dan seruan untuk menghidupkan sunnah ini adalah dakwah yang sesat dan bodoh, menjauhkan umat Islam dari agamanya atau menyangka (hal tersebut) sebagai dakwah yang tidak ada nilainya, (yang) tidak mungkin seluruh muslimin berdiri di atasnya, karena hal itu adalah perkara furu&#8217;, khilafiyah atau masalah kulit!! <em>Walaa haula walaa quwwata illa billah</em>.</p>
<p>[d].  Berbuka Sebelum Shalat Maghrib</p>
<p>Rasulullah<em> Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berbuka sebelum shalat Maghrib[3] karena menyegerakan berbuka termasuk akhlaknya  para nabi. Dari Abu Darda&#8217; <em>Radhiyallahu &#8216;anhu</em>.</p>
<p>&#8220;Tiga perkara yang merupakan akhlak para nabi: menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur dan meletakkan tangan di atas tangan kiri dalam shalat&#8221; [4]</p>
<p>[Disalin dari Kitab <em>Sifat Shaum Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan</em>, edisi Indonesia Sifat Puasa Nabi <em>Shallallahu 'alaihi wa sallam</em> oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, terbitan Pustaka Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata]<br />
________<br />
Foote Note.<br />
[1]. Hadits Riwayat Ibnu Hibban (891) dengan sanad Shahih, asalnya -telah lewat dalam shahihain- Kami katakan: Syia&#8217;h Rafidhoh telah mencocoki Yahudi dan Nasrani dalam mengakhirkan buka hingga terbitnya bintang. Mudah-mudahan Allah melindungi kita semua dari kesesatan.<br />
[2]. Hal ini bukan berarti, jika manusia telah terlena dengan dunianya hingga mereka mengakhirkan buka mengikuti Yahudi dan Nasrani, kemudian agama ini menjadi kalah, tidak demikian keadaannya, Islam senantiasa akan menang kapanpun juga, dan dimanapun tempatnya. Wallahu a&#8217;lam, -ed<br />
[3]. Hadits Riwayat Ahmad (3/164), Abu Dawud (2356) dari Anas dengan sanad Hasan.<br />
[4]. Hadits Riwayat Thabrani dalam Al-Kabir sebagaimana dalam Al-Majma (2/105) dia berkata : &#8220;&#8230;.. marfu&#8217; dan mauquf shahih adapaun yang marfu&#8217; ada perawi yang tidak aku ketahui biografinya&#8221;. Aku katakan Mauquf -sebagaimana telah jelas- mempunyai hukum marfu&#8217;</p>
<p>Sumber : <a href="http://www.almanhaj.or.id/content/1120/slash/0">http://www.almanhaj.or.id/content/1120/slash/0</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rumahilmu.wordpress.com/24/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rumahilmu.wordpress.com/24/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahilmu.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahilmu.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahilmu.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahilmu.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumahilmu.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumahilmu.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumahilmu.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumahilmu.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahilmu.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahilmu.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahilmu.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahilmu.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahilmu.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahilmu.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahilmu.wordpress.com&amp;blog=614759&amp;post=24&amp;subd=rumahilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/23/berbuka-puasa-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af22681d128b16f91f69e1858c590a5f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pakdhe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kemudahan dalam berpuasa</title>
		<link>http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/08/kemudahan-dalam-berpuasa/</link>
		<comments>http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/08/kemudahan-dalam-berpuasa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Sep 2007 08:52:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pakdhe</dc:creator>
				<category><![CDATA[puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/08/kemudahan-dalam-berpuasa/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syaikh Salim bin &#8216;Ied Al-Hilaaly Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid [1]. Musafir Banyak hadits shahih membolehkan musafir untuk tidak puasa, kita tidak lupa bahwa rahmat ini disebutkan di tengah-tengah kitab-Nya yang Mulia, Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang berfirman. &#8220;Artinya: Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahilmu.wordpress.com&amp;blog=614759&amp;post=23&amp;subd=rumahilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Oleh<br />
Syaikh Salim bin &#8216;Ied Al-Hilaaly<br />
Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid</p>
<p>[1]. Musafir</p>
<p>Banyak hadits shahih membolehkan musafir untuk tidak puasa, kita tidak lupa bahwa rahmat ini disebutkan di tengah-tengah kitab-Nya yang Mulia, Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang berfirman.</p>
<p>&#8220;Artinya: Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu, pada hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu&#8221; [Al-Baqarah: 185]</p>
<p><span id="more-23"></span>Hamzah bin Amr Al-Aslami bertanya kepada Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>: &#8220;Apakah boleh aku berpuasa dalam safar?&#8221; -dia banyak melakukan safar- maka Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya: Berpuasalah jika kamu mau dan berbukalah jika kamu mau&#8221;  [Hadits Riwayat Bukhari 4/156 dan Muslim 1121]</p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>Radhiyallahu &#8216;anhu</em> berkata: &#8220;Aku pernah melakukan safar bersama Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> di bulan Ramadhan, orang yang puasa tidak mencela yang berbuka dan yang berbuka tidak mencela yang berpuasa&#8221; [Hadits Riwayat Bukhari 4/163 dan Muslim 1118]</p>
<p>Hadits-hadits ini menunjukkan bolehnya memilih, tidak menentukan mana yang afdhal, namun mungkin kita (bisa) menyatakan bahwa yang afdhal adalah berbuka berdasarkan hadits-hadits yang umum, seperti sabda Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam</em>.</p>
<p>&#8220;Artinya: Sesungguhnya Allah menyukai didatanginya rukhsah yang diberikan, sebagaimana Dia membenci orang yang melakukan maksiat&#8221; [Hadits Riwayat Ahmad 2/108, Ibnu Hibban 2742 dari Ibnu Umar dengan sanadnya yang Shahih]</p>
<p>Dalam riwayat lain disebutkan:</p>
<p>&#8220;Artinya: Sebagaimana Allah menyukai diamalkannya perkara-perkara yang diwajibkan&#8221; [1]</p>
<p>Tetapi mungkin hal ini dibatasi bagi orang yang tidak merasa berat dalam mengqadha&#8217; dan menunaikannya, agar rukhshah tersebut tidak melenceng dari maksudnya. Hal ini telah dijelaskan dengan gamblang dalam satu riwayat Abu Said Al-Khudri <em>Radhiyallahu &#8216;anhu</em>.</p>
<p>&#8220;Para sahabat berpendapat barangsiapa yang merasa kuat kemudian puasa (maka) itu baik (baginya), dan barangsiapa yang merasa lemah kemudian berbuka (maka) itu baik (baginya)&#8221; [2]</p>
<p>Ketahuilah saudaraku seiman -mudah-mudahan Allah membimbingmu ke jalan petunjuk dan ketaqwaan serta memberikan rizki berupa pemahaman agama- sesungguhnya puasa dalam safar, jika memberatkan hamba bukanlah suatu kebajikan sedikitpun, tetapi berbuka lebih utama dan lebih dicintai Allah.  Yang mejelaskan masalah ini adalah riwayat dari beberapa orang sahabat, bahwa Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya: Bukanlah suatu kebajikan melakukan puasa dalam safar&#8221; [Hadits Riwayat Bukhari 4/161 dan Muslim 1110 dari Jabir]</p>
<p>Peringatan:<br />
Sebagian orang ada yang menyangka bahwa pada zaman kita sekarang ini tidak diperbolehkan berbuka, sehingga (berakibat ada  yang) mencela orang yang mengambil rukhsah tersebut, atau berpendapat bahwa puasa itu lebih baik karena mudah dan banyaknya sarana transportasi saat ini. Orang-orang seperti ini perlu kita usik ingatan mereka  kepada firman Allah Yang Maha Mengetahui perkara ghaib dan nyata:</p>
<p>&#8220;Artinya: Dan tidaklah Tuhanmu lupa&#8221; [Maryam: 64]</p>
<p>Dan juga firman-Nya.</p>
<p>&#8220;Artinya:Allah mengetahui sedangkan  kamu tidak mengetahui&#8221; [Al-Baqarah: 232]</p>
<p>Dan firman-Nya di tengah ayat tentang rukhshah berbuka dalam safar.</p>
<p>&#8220;Artinya: Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu&#8221; [Al-Baqarah: 185]</p>
<p>Yakni, kemudahan bagi orang yang safar adalah perkara yang diinginkan, ini termasuk salah satu tujuan syar&#8217;iat. Cukup bagimu bahwa Dzat yang mensyari&#8217;atkan agama ini adalah pencipta zaman, tempat dan manusia. Dia lebih mengetahui kebutuhan manusia dan apa yang bermanfaat bagi mereka. Allah berfirman.</p>
<p>&#8220;Artinya: Apakah Allah Yang Menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui ?&#8221; [Al-Mulk: 14]</p>
<p>Aku bawakan masalah ini agar seorang muslim tahu jika Allah dan Rasul-Nya sudah menetapkan suatu perkara, tidak ada pilihan lain bagi manusia, bahkan Allah memuji hamba-hamba-Nya yang mukmin yang tidak mendahulukan perkataan manusia di atas perkataan Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p>Kami dengar dan kami taat, (Mereka berdo&#8217;a): &#8220;Ampunilah kami yang Tuhan kami dan kepada Engkau-lah tempat kembali&#8221; [Al-Baqarah: 285]</p>
<p>[2]. Sakit</p>
<p>Allah membolehkan orang yang sakit untuk berbuka sebagai rahmat dari-Nya, dan kemudahan bagi orang yang sakit tersebut. Sakit yang membolehkan berbuka adalah sakit yang apabila dibawa berpuasa akan menyebabkan suatu madharat atau menjadi semakin parah penyakitnya atau dikhawatirkan terlambat kesembuhannya. <em>Wallahu a&#8217;alam</em></p>
<p>[3]. Haid dan Nifas</p>
<p>Ahlul ilmi telah bersepakat bahwa orang yang haid dan nifas tidak dihalalkan berpuasa, keduanya harus berbuka dan mengqadha, kalaupun keduanya puasa (maka puasanya) tidak sah. Akan datang penjelasannya, insya Allah.</p>
<p>[4]. Kakek dan Nenek Yang Sudah Lanjut Usia</p>
<p>Ibnu Abbas <em>Radhiyallahu &#8216;anhuma</em> berkata: &#8220;Kakek dan nenek yang lanjut usia, yang tidak mampu puasa harus memberi makan setiap harinya seorang miskin&#8221;[3]</p>
<p>Diriwayatkan oleh Daruquthni (2/207) dan dishahihkannya, dari jalan Manshur dari Mujahid dari Ibnu Abbas, beliau membaca ayat:</p>
<p>&#8220;Artinya: Orang-orang yang tidak mampu puasa harus mengeluarkan fidyah makan bagi orang miskin&#8221; [Al-Baqarah: 184]</p>
<p>Kemudian beliau berkata: &#8220;Yakni lelaki tua yang tidak mampu puasa dan kemudian berbuka, harus memberi makan seorang miskin setiap harinya 1/2 gantang gandum&#8221; [Lihat ta'liq barusan]</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>Radhiyallahu &#8216;anhu</em>.</p>
<p>&#8220;Artinya: Barangsiapa yang mencapai usia lanjut dan tidak mampu puasa Ramadhan, harus mengeluarkan setiap harinya satu mud gandum&#8221; [Hadits Riwayat Daruquthni 2/208 dalam sanadnya ada Abdullah bin Shalih dia dhaif, tapi punya syahid]</p>
<p>Dari Anas bin Malik (bahwa) beliau lemah (tidak mampu untuk puasa) pada satu tahun, kemudian beliau membuat satu wadah Tsarid dan mengundang 30 orang miskin (untuk makan) hingga mereka kenyang. [Hadits Riwayat Daruquthni 2/207, sanadnya Shahih]</p>
<p>[5]. Wanita Hamil dan Menyusui</p>
<p>Di antara rahmat Allah yang agung kepada hamba-hamba-Nya yang lemah adalah Allah memberi rukhsah (keringanan) pada mereka untuk berbuka, dan diantara mereka adalah wanita hamil dan menyusui.</p>
<p>Dari Anas bin Malik [4], ia berkata:</p>
<p>&#8220;Kudanya Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mendatangi kami, akupun mendatangi Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, aku temukan beliau sedang makan pagi, beliau bersabda, &#8220;Mendekatlah, aku akan ceritakan kepadamu tentang masalah puasa. Sesungguhnya Allah <em>Tabaraka wa Ta&#8217;ala</em> menggugurkan 1/2 shalat atas orang musafir, menggugurkan atas orang hamil dan menyusui kewajiban puasa&#8221;. Demi Allah, Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah mengucapkan keduanya atau salah satunya. Aduhai sesalnya jiwaku, kenapa aku tidak (mau) makan makanan Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>&#8221; [Hadits Riwayat Tirmidzi 715, Nasa'i 4/180, Abu Daud 3408, Ibnu Majah 16687. Sanadnya Hasan sebagaimana pernyataan Tirmidzi]</p>
<p>[Disalin dari Kitab <em>Sifat Shaum Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan</em>, edisi Indonesia Sifat Puasa Nabi <em>Shallallahu 'alaihi wa sallam</em> oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, terbitan Pustaka Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata]<br />
_________<br />
Foote Note.<br />
[1]. Hadits Riwayat Ibnu Hibban 364, Al-Bazzar 990, At-Thabrani dalam Al-Kabir 11881 dari Ibnu Abbas dengan sanad yang Shahih. Dalam hadits -dengan dua lafadz ini- ada pembicaraan yang panjang, namun bukan di sini tempat menjelaskannya<br />
[2]. Hadits Riwayat Tirmidzi 713, Al-Baghawi 1763 dari Abu Said, sanadnya Shahih walaupun dalam sanadnya ada Al-Jurairi, riwayat Abul A&#8217;la darinya termasuk riwayat yang paling Shahih sebagaimana dikatakan oleh Al-Ijili dan lainnya.<br />
[3]. Hadits Riwayat Bukhari 4505, Lihat Syarhus Sunnah 6/316, Fathul bari 8/180. Nailul Authar 4/315. Irwaul Ghalil 4/22-25. Ibnul Mundzir  menukil dalam Al-Ijma&#8217; no. 129 akan adanya ijma (kesepakatan) dalam masalah ini.<br />
[4]. Dia adalah Al-Ka&#8217;bi, bukan Anas bin Malik Al-Anshari pembantu Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, tapi ia adalah seorang pria dari bani Abdullah bin Ka&#8217;ab, pernah tinggal di Bashrah, beliau hanya meriwayatkan satu hadits saja dari Nabi, yakni hadits di atas.</p>
<p>Sumber : <a href="http://www.almanhaj.or.id/content/1116/slash/0">http://www.almanhaj.or.id/content/1116/slash/0</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rumahilmu.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rumahilmu.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rumahilmu.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rumahilmu.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rumahilmu.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rumahilmu.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rumahilmu.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rumahilmu.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rumahilmu.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rumahilmu.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rumahilmu.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rumahilmu.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rumahilmu.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rumahilmu.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rumahilmu.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rumahilmu.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rumahilmu.wordpress.com&amp;blog=614759&amp;post=23&amp;subd=rumahilmu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahilmu.wordpress.com/2007/09/08/kemudahan-dalam-berpuasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af22681d128b16f91f69e1858c590a5f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pakdhe</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
